Kamis, 27 Desember 2012

Pesan Seorang Ayah Kepada Anaknya


 
Anakku, dalam kehidupan ini kamu akan bertemu dan bergaul dengan banyak orang yang memilki latar belakang keluarga dan pendidikan yang berbeda-beda, kamu harus bisa bergaul dan menyesuaikan diri dengan mereka.
Anakku, kamu harus memiliki pengetahuan untuk bergaul dengan sesamamu, maka jangan pernah kamu berkata “aku sudah selesai belajar”.
Anakku, jika kamu merasa tidak tahu, maka carilah orang yang berilmu untuk kamu jadikan panutan dan guru.
Anakku, jika kamu merasa segan dan takut kepada seorang guru, maka dekatilah beliau agar kamu mendabapat keberkahan karenanya, sebab orang yang berilmu adalah para penghulu dalam kehidupan ini.
Anakku, jangan kamu memilih-milih teman dan membeda-bedakannya dalam kehidupanmu, sebab kamu takkan mau jika dipilih-pilih dan dibeda-bedakan oleh temanmu.
Anakku, jika kamu berteman dengan orang yang baik, pelajarilah perilakunya dan ikutilah, niscaya kamu menjadi orang yang baik pula.
Anakku, jika kebetulan kamu memiliki teman yang kurang baik, maka renungkanlah perilakunya, agar kamu terhindar melakukan hal yang sama dengannya, untung-untung jika kamu bisa menasihatinya.
Anakku, ketahuilah... jika aku sekarang mendidikmu dengan keras, itu semata-mata karena aku sangat menyayangimu.

Pelajaran Kisah Lalu (bagian I)



Dia duduk di teras sambil membaca koran, di sampingnya ada meja tempat dia menaruh segelas kopi dan sepiring gorengan yang disorongkan istrinya beberapa saat lalu, sesekali dia melihat ke ujung jalan di depan rumahnya, seperti sedang menunggu seseorang.
“Assalamu’alaikum” terdengar suara menyapanya. Seorang pemuda berparas tampan dan berrtubuh tegap tampak berdiri sambil tersenyum di depan gerbang.
“Wa’alaikum salam…. Mari silahkan masuk, gak dikunci kok gerbangnya” jawab dia sambil berdiri sembari membalas senyuman pemuda tersebut.
“Apa saya tidak mengganggu pak datang sepagi ini?” pemuda tersebut basa-basi.
“Tidak, tidak… kan sampeyan sudah bilang kemarin, jadi saya sengaja meluangkan waktu tuk sampeyan hari ini. Sebenarnya ada apa? Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya tanpa basa-basi pada pemuda tersebut.
“Begini pak, ehm...” (sesaat dia tampak ragu-ragu untuk mengatakan entah tentang apa).
“Kalau sampeyan belum siap untuk mengatakan apa keperluan sampeyan, kita ngobrol biasa aja ngalor-ngidul, gak apa-apa kok” Dia berkata bijak pada pemuda tersebut.
“Oh, tidak pak... saya tidak keberatan kok menceritakannya pada bapak, cuma saya berpikir apakah pantas saya menceritakannya pada bapak, karena ini masalah pribadi saya, saya khawatir bapak kurang berkenan nantinya” cerocos pemuda tersebut sedikit terburu.
“Kalau begitu ceritakan saja pada bapak, siapa tahu bapak bisa membantu, sampeyan kan belum tahu saya berkenan atau tidak, jangan cepat ngambil kesimpulan gitu, santai saja sama bapak” jawab dia dengan suara yang menenangkan.
“ehm... ini masalah saya dengan orang tua pacar saya pak, namanya Arini, kami sudah menjalin hubungan cukup lama, namun orang tua Arini menolak saya mentah-mentah karena saya belum punya pekerjaan tetap” kata pemuda tersebut perlahan, tiba-tiba kesedihan tergambar jelas di wajahnya, dan seperti kikuk dia menambahkan
“Bagaimana menurut bapak? Apa yang harus saya perbuat?”.
Masih dengan wajah tenang dia memperhatikan pemuda yang duduk di hadapannya tersebut dalam-dalam. Kemudian sebelum pemuda tersebut membuka mulutnya entah mau bicara apa, dia menghela nafas panjang sambil melepas kaca mata bacanya, kontan pemuda tersebut menganga antara diam dan mau melanjutkan bicara.
“Bapak tidak bisa ngasih kamu saran banyak, tapi bapak akan menceritakan sesuatu kepada kamu, semoga kamu nanti bisa mengambil keputusan apa yang harus kamu lakukan setelah mendengar cerita saya” tiba-tiba dia berbicara dengan nada serius meski pandangannya menerawang jauh, yang justru membuat pemuda di depannya tersebut dag-dig-dug.
*****

Pesona



Duhai pesona,
lama hati ini luruh tak berbentuk,
hingga kau datang menanaminya dengan benih cinta,
menyiramnya dengan kasih sayang,
dan memupuknya dengan rindu.
Kini hati t'lah menjadi taman surga,
yang penuh dengan cinta, kasih sayang, dan rindu padamu.
Hati tak mau lagi kehilanganmu,
sekarang jauh telah memenjarakannya, tunggulah..

Yogyakarta, 05-03-09

Surat Cinta

Kepada:
Angan yang Merangkul Rindu
Di Penantian Kasih – Kalbu


Assalamu’alaikum wr. wb.

Teriring rinai cinta yang manja, kuhaturkan dawai asmara yang kian riak menyeruak samudra cinta kepadamu, terimalah… lantas dendangkan gurindam rindu hatimu yang mulai membatu.

Jika masih tersia mantra pada lidahku, mungkin hanya tinggal namamu yang masih tetap indah menghiasi rapalanku, masih sejitu dan semanjur dulu.

Kekasih… jika sampai detik ini aku masih selalu mengajakmu bermimpi, ketahuilah bahwa aku telah terjaga diam-diam dan mulai melangkah sendiri tanpa membangunkanmu, karena aku tak ingin melihat peluh duka oleh beratnya beban yang kau pikul.

Kekasih… jika caraku salah, jangan kau lantas tuduh cintaku buta hingga tak mampu melihat dalam gelapnya kabut yang menyelimuti jalan kita.

Terima kasih kau masih setia merendangi langkahku…. salam rindu tukkmu selalu.

Wassalamu’alaikum wr. wb.


Yogyakarta, 27 Juli 2011
                                                                                                                               
                                                                                                                              Pemujamu
                                                                                                                                    FZ