Dia duduk di teras sambil membaca
koran, di sampingnya ada meja tempat dia menaruh segelas kopi dan sepiring
gorengan yang disorongkan istrinya beberapa saat lalu, sesekali dia melihat ke
ujung jalan di depan rumahnya, seperti sedang menunggu seseorang.
“Assalamu’alaikum” terdengar suara menyapanya.
Seorang pemuda berparas tampan dan berrtubuh tegap tampak berdiri sambil
tersenyum di depan gerbang.
“Wa’alaikum salam…. Mari silahkan masuk, gak
dikunci kok gerbangnya” jawab dia sambil berdiri sembari membalas senyuman
pemuda tersebut.
“Apa saya tidak mengganggu pak
datang sepagi ini?” pemuda tersebut basa-basi.
“Tidak, tidak… kan sampeyan sudah
bilang kemarin, jadi saya sengaja meluangkan waktu tuk sampeyan hari ini.
Sebenarnya ada apa? Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya tanpa basa-basi pada pemuda tersebut.
“Begini pak, ehm...” (sesaat dia tampak
ragu-ragu untuk mengatakan entah tentang
apa).
“Kalau sampeyan
belum siap untuk mengatakan apa keperluan sampeyan, kita ngobrol biasa
aja ngalor-ngidul, gak apa-apa kok” Dia berkata bijak pada pemuda
tersebut.
“Oh, tidak pak...
saya tidak keberatan kok menceritakannya pada bapak, cuma saya berpikir apakah
pantas saya menceritakannya pada bapak, karena ini masalah pribadi saya, saya
khawatir bapak kurang berkenan nantinya” cerocos pemuda tersebut sedikit
terburu.
“Kalau begitu
ceritakan saja pada bapak, siapa tahu bapak bisa membantu, sampeyan kan
belum tahu saya berkenan atau tidak, jangan cepat ngambil kesimpulan gitu,
santai saja sama bapak” jawab dia dengan suara yang menenangkan.
“ehm... ini masalah
saya dengan orang tua pacar saya pak, namanya Arini, kami sudah menjalin
hubungan cukup lama, namun orang tua Arini menolak saya mentah-mentah karena
saya belum punya pekerjaan tetap” kata pemuda tersebut perlahan, tiba-tiba kesedihan
tergambar jelas di wajahnya, dan seperti kikuk dia menambahkan
“Bagaimana menurut
bapak? Apa yang harus saya perbuat?”.
Masih dengan wajah
tenang dia memperhatikan pemuda yang duduk di hadapannya tersebut dalam-dalam.
Kemudian sebelum pemuda tersebut membuka mulutnya entah mau bicara apa, dia
menghela nafas panjang sambil melepas kaca mata bacanya, kontan pemuda tersebut
menganga antara diam dan mau melanjutkan bicara.
“Bapak tidak bisa
ngasih kamu saran banyak, tapi bapak akan menceritakan sesuatu kepada kamu,
semoga kamu nanti bisa mengambil keputusan apa yang harus kamu lakukan setelah
mendengar cerita saya” tiba-tiba dia berbicara dengan nada serius meski
pandangannya menerawang jauh, yang justru membuat pemuda di depannya tersebut
dag-dig-dug.
“Roji... tunggu
sebentar” terdengar teriakan keras memanggil namanya.
Dia menoleh ke arah
sumber teriakan tersebut, ternyata Roby teman satu kosnya yang memanggilnya.
“Dari mana elo kok
gak ada tadi di kantin pas gue cariin?” tanya Roji setelah Roby sampai didepannya
sambil sedikit ngos-ngosan.
“Gue tadi dari
kantor kajur (ketua jurusan) ngliat pengumuman” timpalnya.
“Wihhh... Tumben
banget elo nyambangin kajur, pakek acara liat pengumuman segala?! Kajur apa
“kajur”? goda Roji.
Roji tahu beberapa
kali pas tidak ada kelas, Roby sering bilang kadang mau ke perpus, ke kantin
kampus atau bahkan sekadar lihat pengumuman di kajur, padahal diam-diam dia
mendekati cewek fakultas lain. Hal itu bisa di maklumi karena Roji sendiri juga
lagi dekat dengan cewek sekelasnya, yang berarti waktu luang untuk gosip mulai
dari masalah cewek hingga masalah yang berbau agama dan negara yang biasa mereka
habiskan berdua di warkop atau kosan semakin jarang, mereka ngobrol bareng
paling-paling kalau lagi mau tidur atau pas lagi jalan mau kuliah, itupun tidak
lama.
Meskipun demikian,
dalam hal akademik Roji dan Roby termasuk mahasiswa yang aktif dan rajin.
Bahkan otak mereka masuk dalam kategori ocer alias otak encer. Mereka
berdua juga seperti selebritis di kalangan teman-temannya, terbukti kosan
mereka selalu rame dengan teman-teman sejurusan dan yang lainnya, bahkan hampir
menyerupai base camp, tempat ngrumpi mulai dari masalah pribadi
hingga masalah nasional dan spiritual.
“Enak aja elo nyerocos,
gue beneran dari kajur, dan kabar baiknya, mulai minggu depan kita sudah boeh
mengajukan proposal skripsi. Waktunya cuma satu minggu, sebab minggu berikutnya
diadakan ujian prosal” terang Roby sungguh-sungguh.
“iya, iya.. gue
juga uda tahu, tadi di kasih tahu Bunga pas makan di kantin” jawab Roji.
“kurang ajar elo
ya... pura-pura bego lagi, dasar gondes (gondrong deso), gitu gak ngasih
tahu gue” sungut Roby.
Sambil menyisir
rambut panjangnya dengan jari-jari, Roji menjawab dengan nada sedikit keras
“emang elo pikir gue ngapain nyari elo tadi? Elo pikir gue kangen ama elo? Ih...
najis tahu!”
“eh, gitu aja
sewot” timpal Roby.
“bukan sewot, tapi
lagi emosi nih...” jawab Roji sambil nyengir.
“emang elo nyari
gue mo ngasih tahu pengumuman ini? Tanya Roby.
“iya sipit” goda
Roji. Sipit adalah panggilan yang biasa digunakan teman-teman Roby memanggil
dia, karena dia orangnya memang agak sipit matanya, meskipun tidak ada darah cina
yang mengalir dalam tubuhnya.
“oh.... ya uda kita
impas kalo gitu” dia menjawab.
“impas?? Apanya?”
tanya Roji sedikit bingung.
“gue tadi manggil
elo gondes, dan elo manggil gue sipit” jawab Roby tanpa ekspresi.
“ha... ha... ha...”
mereka berdua tertawa bersama seakan menertawakan diri mereka masing-masing.
****
Hari-hari di kampus
untuk angkatan mereka semakin jarang, maklum mata kuliah mereka sudah habis,
mereka sudah mulai menyusun skripsi, beberapa temannya terlihat sibuk di perpus,
atau ke kantor dosen untuk menemui dosen pembimbingnya. Tak jauh berbeda dengan
Roji dan Roby. Bahkan Roby kabarnya sudah jadian dengan cewek yang ditaksirnya,
dia cerita kepada Roji ketika mereka kebetulan jalan ke kampus bareng sewaktu
mau menemui dosen pembimbingnya.
Selain sibuk dengan
skripsinya, Roji juga sibuk membantu Bunga (entah mereka sudah jadian apa belum,
tapi akhir-akhir ini mereka selalu berdua kemana-mana) yang juga sedang
menyusun skripsi, mereka sering jalan bareng ke toko buku, makan atau sekadar
jalan-jalan meninggalkan kesibukan yang sedang mereka hadapi. Hingga suatu pagi
ketika mereka sedang sarapan berdua, tiba-tiba Roji berkata kepada Bunga:
“Kamu mau menjadi
istriku?” dengan wajah serius.
Bunga yang
terperanjat dengan pertanyaan Roji sampai tersedak, “Kamu ngomong apaan sih..?”
dengan wajah sebal, maklum sebab selain penampilan Roji yang nyentrik
ala semaunya sendiri, dia juga terkenal pandai merayu cewek hanya sekadar
iseng, bahkan ada salah satu cewek yang menanggapinya dengan serius, namun dia
justru menghindar karena dia tidak suka padanya.
“Beneran ini...
Kamu mau tidak jadi istriku?” masih dengan ekspresi yang sama.
“Ih... aneh banget
sih kamu? Yang ada cowok itu ngajak cewek pacaran dulu bukannya moro-moro
ngajak nikah” jawab Bunga dengan ekspresi antara ragu dan terharu.
“Aku Cuma ngajak
sekali ini saja, aku tidak akan mengulangi lagi. Kamu mau jadi istriku atau
tidak?” bahkan sekarang dia menatap tajam mata Bunga.
“Datang ke rumah,
minta ke orang tuaku kalau kamu berani” tantang Bunga, sebab dia bingung mau
menjawab apa, dia masih merasa ragu dan terharu.
“Ya sudah kapan
kamu pulang? Aku ikut, aku akan ngomong langsung ke orang tuamu kalau begitu”
kata Roji mantap, dia melanjutkan sarapannya.
“Aku lusa pulang”
jawab Bunga, masih antara ragu dan haru, dia juga melanjutkan sarapannya.
Setelah obrolan itu,
mereka berdua jalan kaki pulang ke kos masing-masing dalam diam, mereka berdua
seperti sibuk dengan pkirannya masing-masing, baru setelah Bunga sampai di
depan gerbang kosnya, dia menjabat tangan Roji sambil tersenyum dan masuk ke
dalam. Roji kemudian pulang ke kosnya sendiri setelah sebelumnya mampir ke toko
untuk membeli rokok.
Keesokan harinya
mereka bertemu lagi dan seperti biasanya, sarapan bareng, namun seperti tidak
pernah terjadi obrolan yang serius di antara mereka. Bahkan setelah itu mereka
pergi ke toko buku dan sempat nonton film di bioskop dekat toko buku tersebut
berdua. Baru pada malam harinya setelah mereka sampai di kos masing-masing Roji
menelpon Bunga.
“Besok jam berapa
pulangnya?” tanya Roji tanpa basa-basi.
“Sore jam tigaan,
sebab keretanya jam empatan berangkatnya” jawab Bunga.
“Ya sudah besok aku
tunggu di depan kos kamu” kata Roji.
“Kamu beneran mau
ikut? Mau ketemu sama orang tuaku?” tanya Bunga penasaran.
“Kan kemaren kamu
sendiri yang nyuruh aku menemui orang tuamu?!” jawab Roji. “Aku serius, aku
ingin menikahi kamu, aku mau ngomong ke orang tuamu” tambahnya.
“Ya sudah terserah
kamu kalau begitu” Bunga mengakhiri telponnya.
Malamnya Bunga
tidak bisa tidur, dia masih ragu, namun di sisi lain dia juga merasa senang,
sebab Roji ternyata serius mengajaknya menikah, Bunga memang sejak dekat
dengannya sudah merasa suka pada Roji, bukan hanya karena reputasinya di
kampus, tetapi karena Roji tidak sesangar penampilannya, dia perhatian dan
penyayang. Namun tiba-tiba dia seperti tersadar, “apa benar Roji mencintai
aku?” pikirnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu besok “lihat besok saja,
kalau dia memang ikut aku pulang berarti dia memang suka aku” katanya
menenangkan hatinya.
Esok harinya mereka
sarapan berdua seperti biasa, Roji tampak biasa saja, namun tidak begitu halnya
dengan Bunga, dia merasa cemas, dia takut dipermainkan Roji, sebab sampai detik
inipun Roji tak pernah sekalipun bilang kalau dia menyukainya, dan dia setengah
melamun, sampai dia dikagetkan oleh pertanyaan Roji:
“Ada apa kok
melamun? Kamu memikirkan aku ya..?” goda Roji seperti tahu apa yang sedang
dipikirkan Bunga.
“iya... eh enggak,
apaan sih?” jawab Bunga antara sewot dan malu.
“Kalau begitu makan
dong... Jangan melamun gitu, pamali kata orang tua dulu” jawab Roji sambil
tersenyum.
Bunga akhirnya
memakan sarapannya kembali sambil pikirannya masih tidak karuan.
Bersambun.......
Bersambun.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar