Kamis, 27 Desember 2012

Pelajaran Kisah Lalu (bagian I)



Dia duduk di teras sambil membaca koran, di sampingnya ada meja tempat dia menaruh segelas kopi dan sepiring gorengan yang disorongkan istrinya beberapa saat lalu, sesekali dia melihat ke ujung jalan di depan rumahnya, seperti sedang menunggu seseorang.
“Assalamu’alaikum” terdengar suara menyapanya. Seorang pemuda berparas tampan dan berrtubuh tegap tampak berdiri sambil tersenyum di depan gerbang.
“Wa’alaikum salam…. Mari silahkan masuk, gak dikunci kok gerbangnya” jawab dia sambil berdiri sembari membalas senyuman pemuda tersebut.
“Apa saya tidak mengganggu pak datang sepagi ini?” pemuda tersebut basa-basi.
“Tidak, tidak… kan sampeyan sudah bilang kemarin, jadi saya sengaja meluangkan waktu tuk sampeyan hari ini. Sebenarnya ada apa? Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya tanpa basa-basi pada pemuda tersebut.
“Begini pak, ehm...” (sesaat dia tampak ragu-ragu untuk mengatakan entah tentang apa).
“Kalau sampeyan belum siap untuk mengatakan apa keperluan sampeyan, kita ngobrol biasa aja ngalor-ngidul, gak apa-apa kok” Dia berkata bijak pada pemuda tersebut.
“Oh, tidak pak... saya tidak keberatan kok menceritakannya pada bapak, cuma saya berpikir apakah pantas saya menceritakannya pada bapak, karena ini masalah pribadi saya, saya khawatir bapak kurang berkenan nantinya” cerocos pemuda tersebut sedikit terburu.
“Kalau begitu ceritakan saja pada bapak, siapa tahu bapak bisa membantu, sampeyan kan belum tahu saya berkenan atau tidak, jangan cepat ngambil kesimpulan gitu, santai saja sama bapak” jawab dia dengan suara yang menenangkan.
“ehm... ini masalah saya dengan orang tua pacar saya pak, namanya Arini, kami sudah menjalin hubungan cukup lama, namun orang tua Arini menolak saya mentah-mentah karena saya belum punya pekerjaan tetap” kata pemuda tersebut perlahan, tiba-tiba kesedihan tergambar jelas di wajahnya, dan seperti kikuk dia menambahkan
“Bagaimana menurut bapak? Apa yang harus saya perbuat?”.
Masih dengan wajah tenang dia memperhatikan pemuda yang duduk di hadapannya tersebut dalam-dalam. Kemudian sebelum pemuda tersebut membuka mulutnya entah mau bicara apa, dia menghela nafas panjang sambil melepas kaca mata bacanya, kontan pemuda tersebut menganga antara diam dan mau melanjutkan bicara.
“Bapak tidak bisa ngasih kamu saran banyak, tapi bapak akan menceritakan sesuatu kepada kamu, semoga kamu nanti bisa mengambil keputusan apa yang harus kamu lakukan setelah mendengar cerita saya” tiba-tiba dia berbicara dengan nada serius meski pandangannya menerawang jauh, yang justru membuat pemuda di depannya tersebut dag-dig-dug.
*****

“Roji... tunggu sebentar” terdengar teriakan keras memanggil namanya.
Dia menoleh ke arah sumber teriakan tersebut, ternyata Roby teman satu kosnya yang memanggilnya.
“Dari mana elo kok gak ada tadi di kantin pas gue cariin?” tanya Roji setelah Roby sampai didepannya sambil sedikit ngos-ngosan.
“Gue tadi dari kantor kajur (ketua jurusan) ngliat pengumuman” timpalnya.
“Wihhh... Tumben banget elo nyambangin kajur, pakek acara liat pengumuman segala?! Kajur apa “kajur”? goda Roji.
Roji tahu beberapa kali pas tidak ada kelas, Roby sering bilang kadang mau ke perpus, ke kantin kampus atau bahkan sekadar lihat pengumuman di kajur, padahal diam-diam dia mendekati cewek fakultas lain. Hal itu bisa di maklumi karena Roji sendiri juga lagi dekat dengan cewek sekelasnya, yang berarti waktu luang untuk gosip mulai dari masalah cewek hingga masalah yang berbau agama dan negara yang biasa mereka habiskan berdua di warkop atau kosan semakin jarang, mereka ngobrol bareng paling-paling kalau lagi mau tidur atau pas lagi jalan mau kuliah, itupun tidak lama.
Meskipun demikian, dalam hal akademik Roji dan Roby termasuk mahasiswa yang aktif dan rajin. Bahkan otak mereka masuk dalam kategori ocer alias otak encer. Mereka berdua juga seperti selebritis di kalangan teman-temannya, terbukti kosan mereka selalu rame dengan teman-teman sejurusan dan yang lainnya, bahkan hampir menyerupai base camp, tempat ngrumpi mulai dari masalah pribadi hingga masalah nasional dan spiritual.
“Enak aja elo nyerocos, gue beneran dari kajur, dan kabar baiknya, mulai minggu depan kita sudah boeh mengajukan proposal skripsi. Waktunya cuma satu minggu, sebab minggu berikutnya diadakan ujian prosal” terang Roby sungguh-sungguh.
“iya, iya.. gue juga uda tahu, tadi di kasih tahu Bunga pas makan di kantin” jawab Roji.
“kurang ajar elo ya... pura-pura bego lagi, dasar gondes (gondrong deso), gitu gak ngasih tahu gue” sungut Roby.
Sambil menyisir rambut panjangnya dengan jari-jari, Roji menjawab dengan nada sedikit keras “emang elo pikir gue ngapain nyari elo tadi? Elo pikir gue kangen ama elo? Ih... najis tahu!”
“eh, gitu aja sewot” timpal Roby.
“bukan sewot, tapi lagi emosi nih...” jawab Roji sambil nyengir.
“emang elo nyari gue mo ngasih tahu pengumuman ini? Tanya Roby.
“iya sipit” goda Roji. Sipit adalah panggilan yang biasa digunakan teman-teman Roby memanggil dia, karena dia orangnya memang agak sipit matanya, meskipun tidak ada darah cina yang mengalir dalam tubuhnya.
“oh.... ya uda kita impas kalo gitu” dia menjawab.
“impas?? Apanya?” tanya Roji sedikit bingung.
“gue tadi manggil elo gondes, dan elo manggil gue sipit” jawab Roby tanpa ekspresi.
“ha... ha... ha...” mereka berdua tertawa bersama seakan menertawakan diri mereka masing-masing.
****
Hari-hari di kampus untuk angkatan mereka semakin jarang, maklum mata kuliah mereka sudah habis, mereka sudah mulai menyusun skripsi, beberapa temannya terlihat sibuk di perpus, atau ke kantor dosen untuk menemui dosen pembimbingnya. Tak jauh berbeda dengan Roji dan Roby. Bahkan Roby kabarnya sudah jadian dengan cewek yang ditaksirnya, dia cerita kepada Roji ketika mereka kebetulan jalan ke kampus bareng sewaktu mau menemui dosen pembimbingnya.
Selain sibuk dengan skripsinya, Roji juga sibuk membantu Bunga (entah mereka sudah jadian apa belum, tapi akhir-akhir ini mereka selalu berdua kemana-mana) yang juga sedang menyusun skripsi, mereka sering jalan bareng ke toko buku, makan atau sekadar jalan-jalan meninggalkan kesibukan yang sedang mereka hadapi. Hingga suatu pagi ketika mereka sedang sarapan berdua, tiba-tiba Roji berkata kepada Bunga:
“Kamu mau menjadi istriku?” dengan wajah serius.
Bunga yang terperanjat dengan pertanyaan Roji sampai tersedak, “Kamu ngomong apaan sih..?” dengan wajah sebal, maklum sebab selain penampilan Roji yang nyentrik ala semaunya sendiri, dia juga terkenal pandai merayu cewek hanya sekadar iseng, bahkan ada salah satu cewek yang menanggapinya dengan serius, namun dia justru menghindar karena dia tidak suka padanya.
“Beneran ini... Kamu mau tidak jadi istriku?” masih dengan ekspresi yang sama.
“Ih... aneh banget sih kamu? Yang ada cowok itu ngajak cewek pacaran dulu bukannya moro-moro ngajak nikah” jawab Bunga dengan ekspresi antara ragu dan terharu.
“Aku Cuma ngajak sekali ini saja, aku tidak akan mengulangi lagi. Kamu mau jadi istriku atau tidak?” bahkan sekarang dia menatap tajam mata Bunga.
“Datang ke rumah, minta ke orang tuaku kalau kamu berani” tantang Bunga, sebab dia bingung mau menjawab apa, dia masih merasa ragu dan terharu.
“Ya sudah kapan kamu pulang? Aku ikut, aku akan ngomong langsung ke orang tuamu kalau begitu” kata Roji mantap, dia melanjutkan sarapannya.
“Aku lusa pulang” jawab Bunga, masih antara ragu dan haru, dia juga melanjutkan sarapannya.
Setelah obrolan itu, mereka berdua jalan kaki pulang ke kos masing-masing dalam diam, mereka berdua seperti sibuk dengan pkirannya masing-masing, baru setelah Bunga sampai di depan gerbang kosnya, dia menjabat tangan Roji sambil tersenyum dan masuk ke dalam. Roji kemudian pulang ke kosnya sendiri setelah sebelumnya mampir ke toko untuk membeli rokok.
Keesokan harinya mereka bertemu lagi dan seperti biasanya, sarapan bareng, namun seperti tidak pernah terjadi obrolan yang serius di antara mereka. Bahkan setelah itu mereka pergi ke toko buku dan sempat nonton film di bioskop dekat toko buku tersebut berdua. Baru pada malam harinya setelah mereka sampai di kos masing-masing Roji menelpon Bunga.
“Besok jam berapa pulangnya?” tanya Roji tanpa basa-basi.
“Sore jam tigaan, sebab keretanya jam empatan berangkatnya” jawab Bunga.
“Ya sudah besok aku tunggu di depan kos kamu” kata Roji.
“Kamu beneran mau ikut? Mau ketemu sama orang tuaku?” tanya Bunga penasaran.
“Kan kemaren kamu sendiri yang nyuruh aku menemui orang tuamu?!” jawab Roji. “Aku serius, aku ingin menikahi kamu, aku mau ngomong ke orang tuamu” tambahnya.
“Ya sudah terserah kamu kalau begitu” Bunga mengakhiri telponnya.
Malamnya Bunga tidak bisa tidur, dia masih ragu, namun di sisi lain dia juga merasa senang, sebab Roji ternyata serius mengajaknya menikah, Bunga memang sejak dekat dengannya sudah merasa suka pada Roji, bukan hanya karena reputasinya di kampus, tetapi karena Roji tidak sesangar penampilannya, dia perhatian dan penyayang. Namun tiba-tiba dia seperti tersadar, “apa benar Roji mencintai aku?” pikirnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu besok “lihat besok saja, kalau dia memang ikut aku pulang berarti dia memang suka aku” katanya menenangkan hatinya.
Esok harinya mereka sarapan berdua seperti biasa, Roji tampak biasa saja, namun tidak begitu halnya dengan Bunga, dia merasa cemas, dia takut dipermainkan Roji, sebab sampai detik inipun Roji tak pernah sekalipun bilang kalau dia menyukainya, dan dia setengah melamun, sampai dia dikagetkan oleh pertanyaan Roji:
“Ada apa kok melamun? Kamu memikirkan aku ya..?” goda Roji seperti tahu apa yang sedang dipikirkan Bunga.
“iya... eh enggak, apaan sih?” jawab Bunga antara sewot dan malu.
“Kalau begitu makan dong... Jangan melamun gitu, pamali kata orang tua dulu” jawab Roji sambil tersenyum.
Bunga akhirnya memakan sarapannya kembali sambil pikirannya masih tidak karuan.

Bersambun.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar